Founder TigaGenerasi

Berawal dari Kegalauan

Saat baru memiliki anak, pemilik nama lengkap Noella Adriyanti Rilantono (37) ini mengakui, banyak kebingungan dan ketakutan dalam mengasuh anak. Untunglah, dirinya memiliki relasi dengan para pakar serta akses mencari ilmu dan jawaban tentang masalah yang dihadapainya. “Jadinya kegalauan saya bisa segera mendapat solusi,” ungkap ibu dari Arkananta (10) dan Mahija (5) ini.

Baca juga : Kerja di Jerman

“Saat punya anak kedua, ternyata sama aja, tuh, parno dan galau juga. Begitu juga saat anak sudah besar… sama! Jadinya, ya, seorang ibu harus rajin tanya dan belajar terus,” lanjut pemilik nama beken Ui Birowo ini. “Saat itu saya membayangkan, bagaimana jadinya kalau saya tidak memiliki koneksi dan jalur informasi yang baik, juga mudah. Banyak ibu yang tidak seberuntung saya,” papar istri dari Indra Birowo (45) ini. Nah, berangkat dari situ, Ui mengajak koleganya, mulai psikolog hingga dokter, untuk membuat sebuah support system yang mudah diakses oleh para orangtua Indonesia.

Support system ini juga diharapkan bisa memberikan edukasi kepada orangtua mengenai hal-hal yang mereka butuhkan. Maka, lahirlah TigaGenerasi yang harapannya bisa memberikan kontribusi positif kepada orangtua. MAAF YA, NAK… sebagai orangtua dengan durasi “bekerja” 24 jam 7 hari seminggu, adakalanya kita merasa lelah, baik secara fisik maupun psikis. Saking lelahnya, mungkin tanpa sengaja kita memperlihatkan kekesalan atau kemarahan di depan anak, atau malah melampiaskannya pada anak. Reaksi anak pasti kaget, bahkan sedih.

Melihat reaksi anak, barulah kita merasa bersalah padanya. Untuk mengatasi perasaan bersalah itu, para ahli menyarankan, akuilah kesalahan yang kita buat dan minta maaflah pada anak. “Maaf ya, Mama tadi marah ke kakak,” katakan demikian sambil memeluk anak. Boleh juga dijelaskan sedikit mengapa kita sampai merasa marah atau kesal, tentu dengan bahasa yang mudah dipahami anak.

“Mama sedang capek sekali karena pulang kerja, jadi maaf kalau Mama kurang sabar pas Kakak minta tolong, ya.” Jangan khawatir, mengakui kesalahan seperti ini tidak akan membuat wibawa kita berkurang, kok. Anak malah belajar bahwa ketika kita berbuat kesalahan pada orang lain, konsekuensinya adalah kita harus meminta maaf tentang hal itu. Plus, setelahnya perasaan kita akan merasa jauh lebih baik!

Sumber : https://maxfieldreview.com/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *