Kampanye di Media Sosial

Ada yang beda pada kampanye Pemilihan Umum (pemilu) tahun ini. Suasananya lebih tertib dan tidak menimbulkan keributan di jalan seperti kampanye-kampanye pemilu se belumnya. Sebagian keriuhan memang telah berpindah kedunia maya, terutama di media sosial. Namun, sebesar apakah dampaknya terhadap pemilik hak suara? Negara media sosial Nama Indonesia mencuat setelah pengguna media sosial negeri ini tercatat di peringkat lima besar pengguna terbanyak di dunia. Dari 74,6 juta pengguna Internet (MarkPlus Insight Netizen Survey, 2014), pengguna Facebook mencapai 48,8 juta. Angka itu menobatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pengguna Facebook terbesar keempat pada tahun 2013.

Pengguna Twitter Indonesia adalah yang terbesar ketiga di dunia dan Jakarta sukses menjadi ibu kotanya dengan 385 tweet per detik. Jumlah itu setara 1 miliar atau 7,5% dari total tweet di seluruh dunia pada Juni 2013 (Semiocast & IPRA, 2013). Angka-angka tersebut tentu sangat menggiurkan bagi partai politik (parpol) maupun calon anggota legislatif (caleg) yang ingin mendapatkan kursi di parlemen. Pasalnya, dari total 185.872.593 orang yang mempunyai hak pilih (Komisi Pemilihan Umum, 2014) di seluruh Indonesia, sebanyak 25-30% di antaranya merupakan pemilih pemula (Politicawave, 2014) yang sebagian besarnya adalah pengguna media sosial. Mereka inilah yang menjadi target utama kampanye digital melalui Facebook dan Twitter.

Belum terbukti Kampanye melalui media sosial memang lebih murah dibandingkan kampanye konvensional. Sebab, pengguna media sosial bisa memberikan pengaruh kepada pengguna lainnya dalam menentukan partai atau caleg yang akan dipilih. Interaksi itu mengubah pola one man one vote menjadi one man multi-man vote, sehingga anggaran kampanye bisa dihemat cukup banyak. Maka, wajar saja jika parpol dan caleg ramai-ramai menggunakan media sosial sebagai alat kampanyenya. Akan tetapi, efektivitas kampanye melalui media sosial masih perlu dipertanyakan. Pasalnya, belum ada yang bisa mengukur jumlah suara untuk parpol atau caleg tertentu yang diberikan pemilih setelah mendapat pencerahan dari Facebook atau Twitter.

Terlepas dari prinsip “rahasia” yang dimiliki seseorang dalam menentukan pilihannya, pengaruh isi kampanye di media sosial belum terbukti. Bisa jadi pemilik hak suara yang tadinya belum atau masih ragu menentukan pilihan justru batal menggunakan haknya setelah mengikuti dinamika kampanye dan perdebatan di media sosial. Kesuksesan kampanye Jokowi melalui media sosial di pilkada Jakarta, misalnya, tidak bisa dipisahkan dari kekuatan citra figur Jokowi yang dianggap sukses memimpin Solo sebelumnya. Ketika dirinya dicalonkan sebagai presiden oleh PDIP, citra sosok Jokowi semakin kuat sehingga partai itu sukses mendulang suara terbanyak (versi quick count) pada 9 April lalu. Kesuksesan itu tidak berlaku bagi partai-partai lain yang tak berhasil mendulang suara, meskipun mereka juga giat berkampanye di media sosial

Microsoft gratiskan lisensi Windows untuk phone dan tablet di bawah 9″

Entah terlambat atau tidak, Microsoft akhirnya memutuskan langkah strategis yang belum pernah diambilnya selama ini. pada konferensi BUiLd 2014 di San Francisco, california, awal April lalu, Microsoft memberikan konfirmasi bahwa sistem operasi (oS) windows akan tersedia secara gratis (tanpa biaya lisensi) bagi para produsen smartphone dan tablet. Syaratnya, produk yang dibuat tersebut harus memiliki ukuran layar di bawah 9 inci. Model bisnis win dows dengan sistem lisensi yang menjadi andalan Microsoft dalam meraup untung selama ini mulai digoyang oleh konsep open source yang ditawarkan Google pada Android oS dan chrome oS.

Keberhasilan strategi baru ini dalam mengganjal popularitas Google Android di dunia mole oS masih perlu ditunggu. indikasi adanya respons positif dari produsen baru dapat dilihat paling cepat paruh tahun in atau awal tahun depan nanti. Android oS sendiri bukan hanya menerapkan lisensi gratis bagi produsen tetapi juga lebih fleksibel karena bersifat open source dan tidak dibatasi ukuran layar suatu produk. Selama ini, Microsoft menagih tarif lisensi windows sekitar US$ 5 hingga US$ 15 per device­nya. Strategi lisensi ini pernah mengalami masa jaya di saat pc masih menjadi target konsumen.

Freesync Bakal Diadopsi Vesa

Teknologi AMd FreeSync untuk mensinkronisasikan refresh rate monitor dengan frame rate graphics card dianggap bersifat lebih terbuka dibandingkan solusi yang ditawarkan nVidia, yaitu G­Sync. oleh karena itu, VESA sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap standar interface displayport kabarnya bakal mengadopsi teknologi AMd FreeSync tersebut pada standar displayport 1.3 untuk fasilitas variable refresh rate­nya.

Update Android 4.4.3 Untuk Perangkat Google Nexus

Sebelum beranjak ke Android oS versi berikutnya, Google telah siap menggulirkan rilis terakhir Android KitKat (4.4.3) untuk beberapa perangkat Nexus. pada update terakhir KitKat ini, Google lebih berfokus pada perbaikan serangkaian bug yang selama ini di temui, seperti kapasitas baterai yang habis secara drastis karena adanya aplikasi di latar belakang yang berjalan dan mengaktifkan kamera, bug pada wi­Fi dan Bluetooth, serta bug lainnya.

Daftar Smartphone yang Cocok untuk Main Game PPSSPP

Daftar Smartphone yang Cocok untuk Main Game PPSSPP

NOKIA LUMIA 525

Jalan Terus Lumia Tak pusing oleh keputusan akuisisi Microsoft, Nokia terus tebar pesona. Lumia telah memberi kontrobusi besar agar Microsoft tetap dipandang. Untuk segmen mid end sama perlakuannya dengan high end. Dan meluncurlah Lumia 525. Tapi si pemilik wajah baru ini rupanya mulai disetarakan dengan kelas lebih dari sekadar mid. Terlihat dengan penstandarisasian RAM yang sudah 1 GB juga prosesor berkecepatan komputasi 1 GHz. Plus Bluetooth versi 4.0. Seri dengan layar 4 inci ini hanya menggunakan single camera beresolusi 5 MP. Kini dengan aktifnya Instagram pada Windows Phone, peran kamera tampaknya akan semakin berarti. Seri ini sendiri menggunakan memori 8 GB internal. Namun tidak seperti Lumia 625 yang memberi pilihan warna-warna lebih banyak. Hanya tersedia empat kelir; hitam, putih, kuning, dan merah.

LG G FLEX

Lengkungan Maut Tampil beda itu perlu. Apalagi frontal. Bodi mungkin mudah dibuat melengkung sperti pada seri G Flex ini. Tapi layar? Inilah tingkat kesulitan yang berhasil dilampaui LG Mobile. Layar P-OLED lengkung lah yang dipakai, sekaligus menunjukkan vendor pertama yang berani ambil risiko dan unjuk teknologi layar. LG sendiri menyiapkan beberapa varian yang masing-masing area negara berbeda. Namun secara umum semua komponennya sama. Termasuk ukuran layar seluas 6 inci. Sayang masing menggunakan Jelly Bean versi 4.2.2.(*)

SAMSUNG GALAXY J

J Is Jawara Tampaknya Samsung Galaxy S4 pun harus tunduk pada sang pe nerus, Galaxy J. Alasannya jelas, J adalah jawara saat ini di kelom pok Galaxy, khususnya di kelas 5 inci. Mari perhatikan spesi kasi yang ditawarkan. Fitur seperti smart stay, smart pause, dan smart scroll disediakan. Air gesture menambahi  tur agar menarik pengalaman baru. Tentu tak lupa S-Voice yang sudah jadi andalan sejak lama. Seri ini menggunakan kamera 13 MP. Walaupun sebenarnya Samsung telah menyiapkan 20 MP, tapitampaknya baru akan digunakan pada 2014. Sementara kamera depan sudah 2 MP. Tentu pula dapat melakukan dual shoot seperti pada Galaxy S4. J memang tanggung, harus dirilis Desember, karenanya mau tak mau harus tetap memakai Jelly Bean (v4,3). Tapi Smasung sudah memastikan dapat di-up grade ke Kitkat (v4.4). Catatan menarik lainnya, J bak disiapkan jadi multitools juga. Sebut saja beberapa sensor untuk kompas, kelembaban, tekanan udara. Di tubuh inti, Galaxy J memiliki chipset Qualcomm MSM8974 Snapdragon 800 dengan prosesor Krait 400 speed 2,3 GHz quad core. Adreno 330 mendukung gra s. Sementara sistem penyimpanan data ada memori internal 16 GB, serta RAM 3 GB. Ditambah memori dari kartu microSD